Selasa, 22 Juni 2010
Sakura Eye’s
Huah!! Bosan aku lama berada didalam pesawat. Sakit semua, oh iya.. kakak mana ya? Katanya mau datang menjemputku. Apa dia terlambat?
Kenalkan namaku Sakura Nagashiwa. Aku pindahan dari Mesir, nanti di Tokyo aku akan tinggal dengan kakakku. Tiba-tiba ada seorang laki-laki yang datang menghampiriku dan bertanya, “Namamu Sakura Nagashima bukan?”.
Jangan-jangan dia penculik? Aku menggeser langkahku menjauhi laki-laki itu. Dengan tatapan menyebalkan dia memegang pundakku dengan erat, “Aku bukan penculik, aku datang kesini untuk menjemputmu. Kakakmu sedang berlatih baseball di Osaka karena besok akan ada pertandingan besar.”
Dengan senyum yang lumayan memaksa dari lubuk hatiku aku menjabat tangannya, “Eh, untunglah. Maaf sudah mengiramu tidak-tidak. Kalau begitu, perkenalkan aku Sa..”. Belum aku menyelesaikan perkataan dia sudah pergi membawa koperku. “Akan kuantar kau ketempat kakakmu menginap selama di Osaka.”
Ucapan yang dingin, sikap yang sok cool karena belum kenal. Huh! Dasar laki-laki menyebalkan! Kenapa pula kakak menyuruhnya untuk menjemputku? Aku akan memutar otak jika ada wanita yang mau berpacaran dengannya. Aku hanya cemberut dan menggembungkan pipiku. “Heh, dasar gadis menyebalkan, sudah aku jemput masih saja menggerutu. Apa yang sebenarnya kau inginkan?” dengan nada yang menantangku. Kuhajar kau dengan kendo yang aku pelajari selama ini. “Kau itu yang menyebalkan, tampak wajah yang sok.” Tampak dari wajahnya yang tak terima dengan perkataanku tadi. Rasakan, dengan seulas senyum yang aku perlihatkan.
Sesampainya dipenginapan, dia lagsung menaruh tasku dan menyeretku masuk ke taksi kembali. Dasar laki-laki tak bisa sopan pada wanita. Setiba dilapangan kakak yang baru saja selesai berlatih datang menghampiri aku. “Kau sudah datang, Sakura. Maaf ya kakak tak bisa menjemput,” . “ Sebenarnya tak apa kalau kakak tak bisa menjemputku, tapi aku sedikit tidak suka dengan orang ini, tak bisa bersikap baik pada wanita(melirik kearah dia). Dia siapanya kakak sih?” Terlihat wajahnya yang tak begitu menyukai perkataan yang baru saja aku lontarkan tadi. “Dia teman kakak. Harusnya kau berterima kasih padanya karena sudah mau menjemputmu. Ini, Heiji. Tiket menonton baseball, ajak-ajak kawanmu ya,”. “Tentu saja, aku akan mengajak temanku. Terima kasih atas tiketnya ya..(menjulurkan lidah kearahku).” Sialan laki-laki ini! Awas saja kalau kita bertemu lagi!
“Heiji!” panggil kakakku saat bayangan Heiji mulai menghilang. Entah kenapa aku merasa tidak enak akan firasatku. Dan.. kakakku datang berkata, “Aku ingin kau melihat pertandingan ini. Jadi aku meminta Heiji untuk menemanimu. Kau maukan, Sakura?” Tuhkan benar apa kata firasatku. Aku hanya dapat tersenyum, aku lihat disisi kanan Heiji sedang memukul-mukul kecil kepalanya. Bisa aku fikirkan, kalau dia sedang terpaksa.
“Kau apa boleh aku datang kesini sendiri?” tanyaku berharap. “Memang kau sudah tahu jalan?”. GLEK! Aku lupa kalau aku baru saja datang dari Mesir. Aku juga tak ada teman. Matilah aku bersama laki-laki menyebalkan itu. “Akukan bisa naik taksi, kak. Boleh ya aku menonton sendiri?” ujarku memohon. “Tak akan aku izinkan. Kau disinikan baru saja kenal dengan Heiji Hattori saja, jika ada apa-apa terjadi padamu aku bisa dibunuh oleh ibu.” Matilah aku!
Rizuki Eye’s
Huh! Kak Kaito bodoh! Katanya mau datang lebih awal dari aku. Sekarang aku yang malah menunggu dia(celingak-celinguk).
Akan aku perkenalkan diriku.. Namaku.. tiba-tiba entah hanya perasaanku, aku melihat seorang gadis melabaikan tangan padaku. Segera aku melihat kesisi kanan dan kiri. Tapi dia memanggil namaku dengan jelas. Dia memanggil, “Fujisawa Rizuki!” dengan semangatnya. Yak! Barusan saja kalian dengar namaku. Itu dia namaku, aku baru saja berpindah dari Prancis untuk meneruskan sekolah di Tokyo, tapi.. kenapa gadis itu tahu namaku? Aku rasa dia hanya tahu namaku. Aku harus pergi dari sini dan mencari Kak Kaito dimana. Tiba-tiba didepanku ada seorang laki-laki yang menghadangku, “Lama tak bertemu, Rizu,” ujarnya sambil memegang tanganku. “Kak.. Kaito.. kau dari mana saja? Dari tadi aku mencarimu!” aku tak percaya apa yang aku lihat sekarang, Kaito Kuroba yang aku kenal dulu masih kecil dan tak jauh beda tingginya dengan aku. Sekarang dia berada 6 cm lebih tinggi dari aku. Semua berubah dengan cepat.
“Kami berdualah yang susah mencari kau kesana kesini. Kau memang tak bisa diam ditempat ya?” tanya dia dengan nada yang meremehkan. Sialan! Kau fikir aku perempuan apa yang tak bisa diam. “Berdua? Aku tak lihat kau kemari bersama orang tuamu. Siapa yang kau ajak?” tanyaku melihat kearah belakang badannya. Sambil memegang tanganku(lebih tepat memaksa)dia memberikan tangan seorang gadis yang berada dibelakangnya. Aku perkirakan umurnya sama dengan aku, dan tingginya.. sama dengan aku. “Aku perkenalkan dia Raft Tsukiyomi, pacarku,” katanya sambil menatap wajah Raft yang tampak dingin namun terdapat seulas senyum.
“Kaukan gadis yang tadi melambaikan tangan kearahku. Maaf ya, aku kira kau melambaikan tangan keorang lain,” ujarku sambil menjabat tangannya. “Bagaimana kau bisa melambai pada orang lain kalau aku menyebut namamu dan melambaikan tangan padamu?” katanya dingin. Oke, kesan pertama pada gadis ini, dingin. Mungkin baik jika aku bicara baik padanya. Aku hanya tersenyum mendengar jawabannya.
“Baik, aku antar kau kerumah. Oh iya, paman tidak ikut ke Tokyo?” tanya Kaito dengan tangan kanan memeganggi tangan kiri Raft dan tangan kirinya membawakan sebagian tas bawaanku. “Ayah sedang sibuk mengajar di Prancis. Tsukiyomi, kau tinggal bersama siapa?”
“Panggil aku Raft, aku tinggal bersama Keluarga Kudo. Orang tuaku sedang sibuk di L.A,” jawabnya sambil tersenyum. Wah! Dia manis sekali kalau tersenyum! “Di L.A.. Apa yang mereka lakukan?” tanyaku dengan antusias. “Ibuku sedang syutting film hingga memakan waktu cukup lama. Aku dengar ibumu menjabat polisi ya di Tokyo?” Tak aku kira aku bisa berbicara dengannya dengan lancar. Kalau dilihat-lihat sifat kami hampir sama yaitu stay cool. “Ya begitulah.”
“Kau mau ikut aku nanti malam, Fujisawa?” tanya dia tersenyum. “Panggil Rizu saja. Ikut kemana?” tanyaku sambil menatap Kaito yang hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. “Ikut kemana?” tanyaku sekali lagi.
“Balapan liar denganku. Mau tidak?” tanya Raft dengan senyum yang menantang. Pertemuan dan kesan pertama tentang gadis ini sungguh luar biasa! “ Kau fikir aku akan menolak ajakanmu yang menantang itu, Raft?” balasku dengan senyum yang juga menantang. Kaito hanya mengelengkan kepala melihat tingkah kami.
Raft Eye’s
Ternyata saudara jauh Kaito lumayan juga untuk aku ajak bermain adrenalinnya, tanpa rasa takut dia menerima tantanganku.
“Baiklah nona Rizu. Nanti malam akan aku jemput kau dirumah Kaito pukul 8. Aku harap kau sudah mempersiapkan semua termasuk oksigen cadangan,” balasku dengan semangat. “Oh iya, Kaito. Kau antarkan aku pulang ya. Lewat pintu belakang tentunya.”
“Tentu saja, aku tak ingin ketahuan oleh kakakmu yang lumayan bawel itu.” Akan aku perkenalkan diriku, aku Raft Tsukiyomi(kurasa tadi Kaito sudah bilang). Aku blasteran dari ibu L.A dan ayahku Jepang, mau tahu kenapa mereka bisa bertemu? Tanya saja mereka sendiri. Tapi besok, saat mereka sudah kembali dari L.A. Aku tinggal bersama sama keluarganya Shinichi Kudo, kami berdua saudara sepupu.
“Raft, kau sekolah dimana?” tanya Rizu yang tiba-tiba menepuk bahuku. “Ehm.. Itu aku satu sekolah dengan Kaito. Kebetulan pula aku adik kelas Kaito.” Aku melihat dari wajahnya yang menunjukan senyum lebar. “Benarkah? Berarti nanti kita satu sekolah ya? Semoga kita satu kelas juga ya.”
“Baiklah, Raft. Ini sudah sampai dirumahmu,” kata Kaito dengan senyuman manisnya. Kami berdua sudah lumayan lama berpacaran sekitar satu tahun. Tapi semua ini tak diketahui oleh Kak Shinichi, bisa dikatakan kami backstreet. “Sampai jumpa nanti malam, Rizu,” ujarku sambil mengedipkan sebagian mataku. Lalu mobil itu pergi. Tak aku kira, baru beberapa jam yang lalu kami berkenalan, kami sudah kenal dekat. Senang rasanya. “Kau dari mana saja?” tanya seorang laki-laki dibelakangku. GLEK! Kak Shinichi! Apa di dia sudah berada disitu sejak tadi? Bisa mati aku!
“Tenang saja aku barusan datang. Aku kemari saat mendengar suara mobil menyala. Kau dari mana saja, hah?” tanya kak Shinichi dengan nada yang lumayan dingin. “Aku.. tadi baru saja menjemput adiknya temanku, kak.” “Hoo.. lalu kenapa ponselmu dimatikan?” tanya dia lagi layak diintrogasi. Tuhan! Kirimkan aku bantuan agar aku lepas dari introgasi ini! Aku mohon Tuhan!
“Raft ada telefon dari temanmu!” panggil bibi. Iyez! Aku bebas! Permisi Kak Shinichi. “Aku mau mengangkat telfon dulu, kak. Permisi,” kataku sambil menjauh dari Kak Shinichi. “Halo siapa ini?” tanyaku dengan semangat. Terdengar diujung suara ini ada suara laki-laki, “Ini aku Hattori. Kau dan kakakmu akan aku ajak menonton baseball di Kohsyien. Mau tidak?”
“Kapan memangnya?” tanyaku dengan mata melirik kearah Kak Shinichi. “Besok, jadi besok pagi kau dan Kudo datang kemari, bagaima..” belum Heiji menyelesaikan pembicaraannya, “TENTU KAMI IKUT!” jawabku dengan keras. “Emh, ba.. baiklah. Tapi kau tak perlu berteriak sekencang itu!” ujarnya agak marah. “Maaf ya.. sudah aku akan bilang ke Kak Shinchi,” belum sempat dia mengicapkan salam perpisahan sudah aku tutup telfonya.
“Kak, kita diajak menononton baseball dengan Kak Heiji, mau ikut?” tanyaku sedikit takut-takut. Dia hanya mengganggguk. Hah.. aku terbebas dari kutukan untuk sementara ini tepatnya. Aku lekas kekamar untuk memersiapkan pakaian dan lain-lain saat di Osaka. Dan sekaligus mempersiapkan aku untuk nanti malam berbalap liar di gunung-gunung.
Shinichi Eye’s
Belakangan ini sikap Raft agak berubah, kenapa dengannya? Ah.. aku saja yang terlalu khawatir padanya.
Kenalkan aku Shinichi Kudo, detective yang lumayan terkenal di kalangan anak-anak SMU. Aku selalu saja menyombongkan diri dalam hal ini. “Kapan kita akan ke Osaka, Raft?” tanyaku sambil membaca novel yang baru saja kemarin aku beli. “Besok pagi kita akan berangkat, kata Kak Heiji pertandingannya besok pukul 10. Aku mau kekamar,” ujarnya setelah menjawab pertanyaanku. Ya, itulah Raft. Sikap stay cool yang selalu dikeluarkan. Saat aku tanya dia meniru siapa dengan mudah dia menunjukku dan pergi begitu saja. Baiklah, itu berarti aku harus mempersiapkan semua barang-barang yang aku butuhkan untuk mempermudah pemberangkatan.
Tak lama kemudian Raft keluar dari kamarnya dengan baju yang serba hitam. Hah?! Hitam? Dia mau kemana? “Kau mau kemana, Raft?” tanyaku dengan terbelalak melihat sikapnya. “Aku.. hanya mencoba-coba mobil saja. Dan mungkin akan pulang malam. Sampai jumpa, Kak Shinichi.”
Pasti dia ingin melihat balapan liar itu lagi, ah sudah biarlah. Yang terpenting dia tak balapan. Aku menuju kamar dan mengambil barang yang aku butuhkan untuk besok, setelah selesai aku akan membaca novel itu lagi. Rasanya aku sudah 5 kali membacanya.
Heiji Eye’s
Kenapa rasanya aku sial dalam hari ini! Menemani adiknya Itachi dipertandingan?! Mati berdiri aku disana!
Baiklah, kenalkan aku Heiji Hattori. Ayahku seorang kepala polisi di Osaka dan aku mendapatkan sifatnya. Aku terkadang membantu Shinichi dalam menyelesaian kasus, atau malah aku bisa sendiri. Hah.. aku lebih terima jika aku menemani seorang berada di rumah sakit dibandingkan bersama gadis yang menyebalkan itu, tapi jika aku bilang begitu pada Itachi, dia akan marah besar padaku. Sudahlah, toh ya Cuma 1 tahun sekali bertemu dengan gadis menyebalkan itu.
“Kau ini sedang memikirkan apa?” tanya ibuku yang membubarkan semua lamunanku. Hah.. Syukurlah aku bisa keluar dari lamunanku! Terima kasih, ibu! “ I.. ibu.. tak apa,” jawabku memakai topi yang biasa aku bawa. “Sekarang kau mau kemana lagi?” tanya ibu dengan tenang. Mungkin ibu sudah tahu kalau aku memakai topi itu berarti akan pergi. “Hanya berjalan-jalan saja. Daa ibu!”(melambaikan tangan) Baiklah aku akan menuju toko buku untuk mencari novel yang selama ini aku cari.
Kaito Eye’s
Wah wah.. baru saja Rizu berkenalan dengan Raft mereka sudah bisa dekat. Tak aku kira mereka bisa berbicara dengan santai.
Perkenalkan aku, namaku Kaito Kuroba. Saudara jauh dari Rizuki, rumah kami juga berseberangan. Aku memiliki rahasia besar yang hanya diketahui oleh Rizu dan Raft, rahasianya adalah aku ini Kaito KID. Hoho.. seorang pencuri yang terkenal dikalangan para gadis-gadis cantik. Tapi, aku hanya satu hati untuk Raft seorang(Ciela) . Kalian tahu kenapa aku bisa menyukai Raft, kami bertemu pertama kali saat Shinichi sedang memecahkan kasus dan dia datang bersama adiknya. Diantara gadis-gadis lain, dia hanya terlihat dia saat aku datang ketempat itu. Bahkan saat aku mengatakan rahasia terbesarku, dia hanya tersenyum dan pergi. Sekarang mari kita lihat apa yang sedang Rizu lakukan, hm.. benar-benar seperti Raft. Dia sudah siap berbalap.
“Ada apa sih, Kak Kaito? Dari tadi senyam senyum sendiri?” Ternyata Rizu dari tadi memperhatikan aku ya? Waduh!
“Tak apa. Aku hanya kagum padamu..” cara cari alasannya susah sekali. “Kagum kenapa?” tanya dia lagi. Lha masih tanya! Apa dia tak tahu ya aku susah cari alasan! “Ka.. kagum karena kau.. bisa cepat dekat dengan Raft! Ya benar!” ujarku sambil menggaruk-garuk kepalaku. Padahal sedang tidak gatal. Awas kau tanya lagi!
They Eye’s
Terlihat dari jauh mobil milik Raft datang menghampiri rumah Kaito. Tak selang lama dia membunyikan bel mobilnya. “Iya! Sebentar, Raft!” tampak Rizuki tergesa-gesa menuju mobil yang ditumpangi oleh Raft. Tersirat senyum kecil dibibir Raft melihat tingkah Rizuki. “Aku terlambat ya, Raft?” tanya Rizuki dengan takut. “Kau datang dengan tepat waktu, Rizu.”
“Selamat bersenang-senang,” ujar Kaito dengan menaruh senyum pada Raft dan Rizu. “Baiklah! Segera berangkat! Oh iya! Rizu, malam ini ibumu sedang bertugas disekitar area berbalap. Aku sarankan, kau untuk hati-hati.”
“Tenang saja, akukan bersama pembalap handal. Benarkan, Raft?” tanyaku padanya, tiba-tiba dia menancapkan gas dan meninggalkan Kaito. Rizuki hanya dapat tercegang saat Raft mengendarai mobil dengan lihainya. “Kita mulai, nona Rizu,” ujarnya dan menambah laju kecepatan. “Rizu, aku mengundangmu dan Kaito dalam perlombaan baseball. Kau mau datang?” tanya Raft.
“Te.. ntu saja.. aku boleh meminta sesuatu? Bisakah kau sedikit pelan?” tanya Rizuki dengan wajah pucat. “Inilah balapan liar yang sesungguhnya.”
“Aku katakan sekali tidak tetap tidak, nona Sakura!” tegas dan keras hingga membuat Sakura menutup telinganya. Tak lama kemudian ponsel milik Sakura berbunyi.
“Halo!” dengan nada marah Sakura mengangkat ponselnya. “Sakura sayang.. kok marah gitu nadanya? Kamu ada masalah dengan kakakmu ya?” tanya Ibu Sakura dengan tenang. “I.. ibu.. maaf, bu. Tidak aku sedang tidak ada apa-apa dengan kakak.”
“Benarkah?” tanya ibunya tak percaya. Tiba-tiba ponsel Sakura direbut oleh kakaknya, “Berikan padaku! Halo ibu, kami tak apa-apa. Ibu sendiri bagaimana?”tanya kakanya sambil menjulurkan lidah.
Hah.. Sakura hanya bisa menghembuskan nafas. Dan difikirannya tertera jelas PASTI TIDAK BOLEH!
“Hei, Kudo! Kau sudah siapkan untuk besok? Aku sudah siapkan tiket nontonnya, kau juga menginap dihotel yang aku pesankan. Bagaimana?” tanya Heiji dengan semangat.
“Hm.. Heiji, kau tahu kemana Raft pergi? Dia belum pulang hingga sekarang,” ujar Shinichi khawatir. “Tenang saja, dia hanya melihat balapan liar seperti biasanya. Sepertinya kau sangat khawatir padanya, Kudo. Ada apa?”
“Tak apa.. aku hanya ingin bertanya sedikit,” Shinichi hanya dapat menghembuskan nafasnya. “Hei, Kudo. Kau nanti datang kelapangan menggunakan taksi ya. Aku ada perlu menjemput adiknya kawanku. Tak apakan?” tanya Heiji.
“Hah.. kalau itu aku tak apa. Ya sudah, sampai jumpa besok,” ujar Shinichi sambil menutup poselnya.
“Nagashima, aku sedang mencari novel yang selama ini aku cari. Dan lihat.. aku mendapatkannya. Kau sendiri?” Heiji melihat-lihat kearah belakang Itachi. “Mana adikmu yang menyebalkan itu?”
“Haha.. dia menyebalkan ya? Tak usah kaget, kau harus terbiasa dengannya karena dia akan tinggal di Tokyo selamanya. Ya kalau tak ada gangguan gugat dari ibu kami.” Heiji hanya dapat menggeleng-gelengkan kepala, “Tadi apa yang kau cari?”
Padahal didalam fikiran Heiji itu merupakan kutukan bila adik Itachi berada di Tokyo untuk selama-lamanya. “Datanglah petaka padaku dengan pelan-pelan lalu hancurlah aku,” fikirnya dalam hati.
“Aku mencari buku yang bisa membuat Sakura diam ditempat dan tak banyak bergerak,” jawab Itachi dengan senyuman manisnya. “Baiklah kalau begitu aku duluan ya? Sampai jumpa besok.”
Label: 6 detective
Selasa, 25 Mei 2010

Kapal Titanic merupakan kapal penumpang milik White Star Line, dibangun di galangan kapal Harland and Wolff di Belfast, Irlandia Utara, didisain untuk menyaingi Lusitania dan Mauretania milik Cunard Line. Titanic, bersama kapal saudara kembarnya Olympic, Olympic dan yang akan dibuat Britannic (pada awalnya dinamakan Gigantic, bertujuan menjadi kapal paling mewah dan terbesar yang pernah dibuat. Pembuatan RMS Titanic, dibiayai oleh hartawan Amerika, J.P. Morgan dan perusahaannya International Mercantile Marine Co., dimulai pada 31 Maret 1909. Badan kapal Titanic selesai diproduksi pada 31 Mei 1911, dan perlengkapan dalam di selesaikan pada 31 Maret tahun berikutnya. Titanic sepanjang 269 meter (882 kaki 9 inci) dan 28 meter (92 kaki 6 inci) lebar, berat mati 46.328 ton, dan ketinggian dari permukaan air ke geladak setinggi 18 meter (60 kaki). Walaupun ia meliputi banyak ruang dan dengan berat mati yang besar itu, kapal Titanic sama panjangnya dengan kapal Olympic. Titanic dilengkapi dua mesin dengan empat silinder, tiga baling-baling, dan satu turbin Parsons bertekanan rendah yang menggerakkan tiga baling-baling. Terdapat 29 ketel dipanaskan oleh 159 perapian batu bara yang mampu menghasilkan kecepatan sampai 23 knot (43 km/j). Hanya tiga dari empat cerobong kapal setinggi 19 meter (63 kaki) yang berfungsi; cerobong yang keempat digunakan sebagai lubang udara, dan untuk memperlihatkan kehebatan kapal. Kapal Titanic mampu membawa 3.547 penumpang dan awak kapal, karena ia juga mengirim surat, maka namanya diberi penambahan kata depan RMS dan juga sebagai kapal uap – SS (Steam Ship).
Pada waktu itu, fasilitas dan kemewahannya tidak dapat ditandingi. Ia menawarkan fasilitas kolam renang, ruang olahraga, pemandian Turki, perpustakaan dan gelanggang squash. Ruang kelas utama dihiasi seluruhnya dengan panel kayu, perabotan mewah dan perhiasan yang indah lainnya. Ia menawarkan tiga lift untuk digunakan penumpang kelas utama dan, satu inovasi pada waktu itu, satu lift bagi penumpang kelas dua.
Titanic dianggap sebagai puncak arsitektur laut dan pencapaian teknologi. Ia dianggap oleh majalah Ship Builders sebagai kapal yang “hampir tidak mungkin tenggelam.” Titanic terbagi atas 16 ruang kedap air dengan pintu yang beri pengunci elektrik dan akan menutup hanya dengan menekan satu tombol dari dek kapal; walaupun, sekat kapal tidak menghalangi keseluruhan ketinggian geladak (hanya sampai Dek-E). Titanic mampu terapung dengan baik walau dua ruang tengah dipenuhi air atau empat bagian pertama dipenuhi air; apabila lebih dari itu maka ia akan tenggelam.
Pelayaran pertama
Kapal Titanic memulai pelayaran pertamanya dari Southampton, Inggris, dalam perjalanan ke New York City, New York, pada Rabu, 10 April 1912, di bawah kendali Kapten Edward J. Smith. Ketika Titanic bergerak meninggalkan tempat berlabuhnya, ombak yang dihasilkan oleh kapal tersebut menyebabkan kapal penumpang New York, yang berlabuh di dekatnya, putus tali tambatnya dan tertarik hampir (sekitar 4 kaki) dari Titanic sebelum kapal tunda New York pergi. Kejadian tersebut baru berhenti setelah satu jam. Selepas menyeberangi selat Inggris, Titanic berhenti di Cherbourg, Prancis, untuk menurunkan dan mengambil penumpang tambahan dan berhenti sekali lagi di Queenstown (sekarang ini dikenal sebagai Cobh), Irlandia, sebelum meneruskan pelayaran ke New York dengan 2.223 penumpang.
Titanic mempunyai tiga bagian kelas penumpang yang dipisahkan. Kelas ketiga juga dikenal sebagai geladak, terdiri dari kabin kecil di dek bawah, diisi oleh kebanyakan pendatang dari inggris yang mengharapkan penghidupan lebih baik di Amerika. Kabin dan ruang kelas kedua, terletak di bagian belakang, memiliki fasilitas yang sama dengan kelas satu di kapal lain. Kebanyakan penumpang kelas kedua pada mulanya menempati kelas satu di kapal yang lain tetapi, karena tidak tersedianya batu bara, maka dipindahkan ke Titanic. Kelas utama merupakan bagian kapal yang paling mewah.
Sebagian dari orang yang terkenal turut belayar sebagai penumpang kelas utama. Ini termasuk jutawan John Jacob Astor dan isterinya Madeleine Force Astor; pemilik kilang Benjamin Guggenheim; pemilik Macy, Isidor Straus dan isterinya Ida; jutawan Denver, Margaret “Molly” Brown; Sir Cosmo Duff-Gordon dan isterinya Lady Lucille Duff-Gordon; George Elkins Widener dan istrinya Eleanor; John Borland Thayer, isterinya Marian dan anak mereka yang berusia tujuh belas tahun, Jack; wartawan William Thomas Stead; Countess of Rothes; pembantu presiden AS Archibald Butt; pengarang dan tokoh masyarakat Helen Churchill Candee; pengarang Jacques Futrelle, dan isterinya May, dan rekan mereka, editor Broadway Henry dan Irene Harris; aktris film bisu Dorothy Gibson; dan yang lain. Ikut bersama di kelas utama lainnya adalah editor urusan White Star Line J. Bruce Ismay yang merencanakan pembuatan Titanic dan pembuat kapal Thomas Andrews, yang turut bersama untuk memantau semua masalah dan menilai kinerja keseluruhan kapal baru tersebut.
Malapetaka
Pada malam Minggu, 14 April, suhu menurun sampai tahap hampir beku dan laut tenang. Bulan tidak keluar dan langit cerah. Kapten Smith, mengetahui peringatan adanya bongkahan gunung es melalui komunikasi nirkabel semenjak beberapa hari lalu, telah mengubah haluan Titanic lebih jauh ke arah selatan. Pada hari Minggu pukul 13:45 waktu setempat, pegawai komunikasi nirkabel dari kapal uap Amerika memberi peringatan bahwa gunung es besar mengapung dalam jalur Titanic, tetapi peringatan ini tidak disampaikan ke dek pengawal. Sore itu, satu lagi laporan mengenai bongkahan gunung es besar yang banyak, kali ini dari Mesaba, juga gagal disampaikan ke dek pengawal.
Pada pukul 23:40 waktu setempat ketika berlayar di selatan Grand Banks di Newfoundland, pengawas Fredrick Fleet dan Reginald Lee melihat bongkahan gunung es yang besar tepat di depan kapal. Fleet membunyikan loceng kapal sebanyak tiga kali dan menelepon dek pengawal memberitahu, “Gunung es, tepat di depan!” Opsir Pertama Murdoch langsung mengarahkan kemudi ke sisi kiri dan mengurangi kecepatan, kemudian mundurkan mesin kapal. Tabrakan ternyata tidak dapat terelakkan, dan gunung es terapung tersebut bergesekan dengan bagian lambung kanan kapal, dan merobek badan kapal di empat bagian pertama dan mematahkan paku baja di bagian bawah kapal yang tertutup permukaan air sepanjang sekitar 91 m (300 kaki). Pintu kedap air baru berhasil menutup rapat saat air sudah keburu memasuki lima bagian kedap air pertama, lebih satu bagian dari apa yang dapat ditahan Titanic agar tidak tenggelam. Berat lima bagian kedap air yang dimasuki air menarik kapal ke bawah melebihi ketinggian dinding kedap air, kemudian air memasuki bagian lain. Kapten Smith, merasakan guncangan hantaman itu, sesampainya ke dek pengawal dan memerintahkan berhenti sepenuhnya. Setelah pemeriksaan oleh pegawai kapten dan Thomas Andrews, sadar bahwa Titanic akan tenggelam, dan setelah tengah malam pada 15 April, perahu penyelamat untuk disiapkan dan panggilan darurat diberitahukan.
Perahu penyelamat pertama, diturunkan pada pukul 00:40 waktu setempat di sebelah kanan dengan hanya di isi 28 orang penumpang di atasnya. Titanic membawa 20 perahu penyelamat dengan kapasitas penuh 1.178 orang penumpang. Walaupun tidak mencukupi untuk membawa semua penumpang dan awak kapal, Titanic membawa cukup perahu penyelamat dan pelampung karena peraturan yang ditetapkan oleh Lembaga Peraturan Inggris. Pada masa itu, jumlah perahu penyelamat yang diperlukan ditetapkan menurut berat mati kapal, bukannya jumlah penumpang yang dibawanya.
Penumpang kelas utama dan kedua dengan mudah bisa mencapai perahu penyelamat dengan tangga yang menuju terus ke dek perahu tetapi penumpang kelas ketiga lebih sulit. Banyak terdapat jalur dari bagian bawah kapal sulit dipahami dan menyulitkan mereka untuk sampai ke perahu penyelamat. Lebih buruk lagi, penumpang kelas tiga saat pintu dikunci oleh awak kapal yang menunggu giliran mengizinkan penumpang naik ke geladak.
Operator radio nirkabel Jack Phillips dan Harold Bride sibuk mengirim CQD, isyarat pertolongan. Beberapa kapal merespon, termasuk Mount Temple, Frankfurt dan kapal saudara kembar Titanic, Olympic, tetapi semuanya terlalu jauh untuk sampai sebelum Titanic tenggelam. Kapal terdekat adalah RMS Carpathia milik Cunard Line yang sejauh 93 kilometer (58 mil) dan hanya berjarak empat setengah jam; terlalu lama untuk menyelamatkan lebih dari setengah penumpang Titanic karena kapalnya sudah keburu tenggelam. Satu-satunya daratan yang menerima isyarat pertolongan Titanic adalah stasiun nirkabel di Cape Race, Newfoundland.
Pada mulanya, penumpang enggan meninggalkan Titanic untuk menaiki perahu penyelamat yang kecil karena merasakan Titanic lebih aman dan tidak ada tanda-tanda apapun sedang berada dalam bahaya atau pun tenggelam. Ini menyebabkan kebanyakan perahu penyelamat dilepas dengan separuhnya kosong; satu perahu yang mampu membawa 40 orang penumpang dilepas dengan hanya 12 orang penumpang di atasnya.
“Wanita dan anak-anak dahulu” diutamakan untuk menaiki perahu penyelamat, Opsir kedua Lightoller, yang mengisi perahu penyelamat di sebelah kiri, hanya memperbolehkan laki-laki yang diperlukan sebagai pengayuh dan tidak untuk sebab lainnya; walaupun masih terdapat tempat kosong. Opsir Pertama Murdoch, yang mengisi perahu di sebelah kanan, memperbolehkan laki-laki naik apabila wanita tidak ada yang mau naik lagi. Saat kapal semakin tenggelam, penumpang mulai cemas dan sebagian perahu penyelamat dilepas dengan penumpang penuh. Pada 02:05 waktu setempat, seluruh bagian depan haluan kapal tenggelam di bawah air, dan kecuali dua buah perahu, semua perahu penyelamat lain telah diturunkan.
Sekitar 02:10 waktu setempat, bagian belakang kapal terangkat dari permukaan air memperlihatkan bagian bawah kapal, kemudi, dan baling-baling kapal , dan pada pukul 02:17 waktu setempat permukaan air membanjiri geladak perahu. Keadaan semakin parah saat dua perahu penyelamat terakhir terapung dari geladak, satu terbalik dan satu lagi separuhnya telah berisi air. Tidak lama kemudian, cerobong asap paling depan jatuh, meremukkan sebagian dek pengawal dan mereka yang terapung dalam air. Di geladak, para penumpang berlari ke arah belakang atau melompat ke laut dangan harapan dapat sampai ke perahu penyelamat. Bagian belakang kapal perlahan-lahan terangkat ke atas, dan barang-barang yang tidak terikat berjatuhan ke laut. Sewaktu bagian belakang kapal terangkat, sistem eletrik mati dan lampu mulai padam. Tidak lama kemudian, pada bagian badan kapal yang tidak kuat menahan beban mengakibatkan Titanic pecah menjadi dua bagian antara dua cerobong terakhir, dan bagian depan tenggelam sepenuhnya. Bagian belakang kapal langsung tehempas kembali di permukaan air dan terangkat tegak lurus. Selepas beberapa saat, pada pukul 02:20 waktu setempat, semuanya tenggelam ke laut.
Dari sejumlah 2.223 orang penumpang, hanya 706 orang penumpang yang selamat; 1.517 orang penumpang tewas. Kebanyakan penumpang tewas disebabkan karena korban terkena hypothermia dalam air 28 °F (−2 °C). Hanya dua dari 18 perahu penyelamat yang kembali untuk menyelamatkan korban dari dalam air selepas kapal tenggelam. Perahu penyelamat nomor empat kembali dan menyelamatkan lima orang, dua dari mereka kemudian tewas. Hampir satu jam kemudian perahu penyelamat nomor empat belas kembali dan menyelamatkan empat orang penumpang yang mana satu penumpang kemudian tewas juga. Penumpang yang lain berhasil menaiki perahu penyelamat yang terapung dari geladak. Terdapat perdebatan dalam perahu penyelamat lain samaada hendak kembali, tetapi kebanyakan yang selamat takut bila perahu penyelamat mereka akan tenggelam akibat dinaiki korban yang mencoba menaiki perahu mereka atau ditarik oleh Titanic yang tenggelam, walaupun sebenarnya hanya sedikit tarikan yang ada.
Kedua bagian kapal tersebut tenggelam dengan cara berbeda. Bagian depan menancap kira-kira 609 m (2.000 kaki) di bawah permukaan dasar laut dan mendarat dengan agak perlahan. Sedangkan bagian belakang tenggelam dengan cepat ke dasar lautan; badan kapal terburai akibat terdapat udara yang terperangkap di dalam kapal. Bagian belakang kapal menghantam dasar dengan kecepatan tinggi, terbenam jauh ke dalam lumpur.
Diselamatkan
Hampir dua jam setelah Titanic tenggelam, RMS Carpathia tiba di tempat kejadian dan mengambil perahu penyelamat pertama. Dalam beberapa jam kemudian, mereka yang masih hidup diselamatkan. Di geladak Carpathia, doa khusyuk yang singkat untuk yang mereka yang terselamatkan dan untuk memperingati mereka yang tewas diadakan, dan pada pukul 08:50 AM, Carpathia menuju ke New York, dan sampai pada tanggal 18 April.
Saat santunan jiwa diberikan, White Star Line menyewa kapal MacKay-Bennett untuk mengevakuasi jenazah. Sejumlah 338 jenazah akhirnya ditemukan. Kebanyakan jenazah dievakuasi ke Halifax, Nova Scotia, sedangkan jenazah yang tidak dikenal dikebumikan di Pemakaman Fairview.
Dampak setelah kejadian
Saat berita mengenai malapetaka tersebut tersebar, banyak orang yang terkejut bahwa Titanic telah tenggelam dengan jumlah korban tewas yang begitu tinggi walaupun dilengkapi dengan teknologi yang maju. Surat kabar dipenuhi berita dan gambaran mengenai malapetaka tersebut dan semuanya tidak henti-hentinya untuk mendapatkan berita terkini. Banyak kotak amal dibuat untuk membantu korban dan keluarga mereka, banyak yang kehilangan orang yang merupakan tulang punggung keluarga, atau dalam kasus penumpang kelas tiga, semua barang yang mereka miliki tenggelam.
Tenggelamnya kapal itu memberi dampak yang mendalam kepada penduduk Southampton. Menurut Hampshire Chronicle pada 20 April 1912, hampir 1.000 keluarga setempat terkena dampaknya secara langsung. Hampir setiap jalan di daerah Chapel kota tersebut kehilangan lebih dari satu penduduk dan hampir 500 rumah kehilangan keluarga.
Sebelum korban yang terselamatkan sampai ke New York, pemeriksaan telah dibuat untuk mengetahui apa yang terjadi atas Titanic, dan apa yang dapat dilakukan untuk menghindari terulangnya peristiwa itu. Senat Amerika Serikat memulai pemeriksaan mengenai musibah Titanic pada 19 April, sehari selepas Carpathia tiba di New York dengan yang selamat. Ketua Penyelidikan, Senator William Alden Smith, ingin mengumpulkan kesaksian penumpang dan awak kapal saat masih segar dalam ingatan mereka. Smith juga memerlukan panggilan tertulis warganegara Inggris untuk pengadilan pada waktu mereka masih berada di negara Amerika. Pemeriksaan Amerika berlangsung sampai tanggal 25 Mei Lord Mersey dilantik untuk mengetuai penyelidikan Dewan Perdagangan Inggris mengenai musibah tersebut. Pemeriksaan Inggris berlangsung antara 2 Mei dan 3 Juli. Setiap pemeriksaan mengambil pendapat dari kedua penumpang maupun ABK Titanic, dan ABK Californian dan pakar lain.
Para penyelidik mendapati kebanyakan peraturan keselamatan ketinggalan zaman dan dengan itu pelbagai langkah keselamatan baru diberlakukan. Kedua pemeriksaan mengenai musibah tersebut mendapati kapten dan kapal Californian gagal memberikan bantuan sewajarnya kepada Titanic. Pemeriksaan tersebut mendapati bahwa Californian lebih dekat dengan Titanic berjarak 31 km (19,5 mil) yang disayangkan oleh Kapten Lord dan bahwa Lord seharusnya membangunkan operator nirkabel setelah tembakan suar dilaporkan kepadanya. Dikarenakan operator nirkabel Californian tidak bertugas, 29 negara mengesahkan Akta Radio 1912, yang menyamakan komunikasi radio, terutama dalam keadaan bahaya.
Musibah tersebut turut mendorong International Convention for the Safety of Life at Sea di London, Inggris, pada 12 November 1913. Pada 20 Januari 1915, persetujuan ditandatangani oleh organisasi tersebut dan menghasilkan pendirian dan pembiayaan Patroli Es Internasional, agensi Pegawai Pesisir Amerika Serikat yang sampai hari ini memantau dan melaporkan lokasi gunung es terapung Lautan Atlantik yang dapat menjadi ancaman bagi jalur laut trans-Atlantik. Disetujui juga dalam peraturan baru bahwa semua kapal penumpang perlu mempunyai perahu penyelamat yang mencukupi bagi semua penumpang di atas kapal, dan latihan keselamatan yang sesuai dilakukan, dan semua komunikasi radio dikendalikan 24 jam sehari bersama pusat kendali kedua, agar tidak terlewatkan panggilan darurat. Sebagai tambahan, disetujui bahwa tembakan suar berwarna merah dari kapal haruslah dianggap sebagai tanda darurat dan bahaya.
Label: Macam-Macam



